Catatan Akhir Tahun
Mendung,,,,gerimis rintik-rintik dan akhirnya hujan. Bertahap dan beralur. Tepat diakhir tahun 2002, semuanya berawal. Tepat diakhir 2007, semuanya berakhir. Dan awal 2008 dimulai lah alur yang baru, episode hidup mengantarkan pada sisi kenyamanan yang lain. Episode kehidupan memberikan kesempatan untuk memperkaya sudut pandang dan menjadikannya nutrisi kearifan.
Menjadi awal untuk salah satu sisi, tapi mungkin adalah akhir untuk bagian sisi lainnya. Awal dan akhir serta siklus yang menyertainya, sistem yang tak terpisahkan. Dan awal 2008, suatu bagian waktu yang nampaknya akan kelam, menjadi serupa paduan warna pelangi yang setiap kemunculannya memiliki komposisi tampak yang berbeda. Bagaimana memandang suatu keadaan dengan sisi tak biasa, meski dalam keterpurukan, adalah nafas untuk menjadikan hidup tetap bernyawa.
Kepergian yang meninggalkan bekas, terkadang menjadi sebuah penyesalan, tetapi rasa syukur dapat merasakan suatu perjalanan waktu yang tak kosong dengan warna, lebih terpilih sebagai sudut pandang pemikiran. Menumbuhkan keinginan untuk menjalani masa selanjutnya dengan sejuta harapan. Merangkai pola untuk mengarahkan pada pencapaian tujuan. Mencari pijakan untuk memberi loncatan yang lebih tinggi.
2008, membawa untuk mengenal mereka yang telah ada, namun mungkin keberadaan yang tak tersadari. Keberadaan yang diawali dari seorang yang begitu peduli. Menjadi sahabat yang entah mengapa selalu hadir dalam kekosongan. Orang yang bersedia mendengar sekedar keluhan dan cerita masa lalu, bahkan tangisan yang tak pernah terdengar. Dia yang mengisi episode 2008.
Berlanjut dengan kehadiran mereka di penghujung 2008 yang ternyata memiliki spesifikasi warna unik, hingga mampu menorehkannya dalam lukisan dinding sepenggal episode. Bersama mereka dan dia yang mengisi episode 2008, membentangkan pola yang sempat membentuknya serupa pelangi dan menutup 2008 dengan keambiguan harapan.
si Tak Mampu Memilih
Si Tak Mampu Memilih
Luka ini akan membuatku tersadar, dunia tak selalu seindah mentari dengan lembut sinar paginya. Terkadang, benturan membuat goncangan pada kenyamanan. Tak sederhana, hingga semua tak bisa di uraikan membentuk barisan makna. Mencoba menerka alur pikiran logis, dari orang-orang yang menganggap ini sederhana. Persinggungan diantaranya tak terbentuk, membuat terjebak diantara kotak-kotak kosong tak memberi jawaban.
Mengapa tak mampu memilih disaat yang seharusnya? Padahal hidup adalah menentukan pilihan, bukan hanya menjalani semua pilihan yang ada. Batasan yang seharusnya mampu di lakukan oleh seorang individu, jika memang hati dan pikirannya hidup dalam sinkronisasi yang normal. Akan menjadi sebuah permasalahan ketika pada akhirnya berimbas pada kepentingan yang sedemikian rumit hingga tak mampu dimengerti. Suatu yang nampaknya sederhana, padahal tidak seperti sesederhana penampakannya, pada kenyataannya memang dianggap sederhana. Siapa peduli?
Dunia bukan hanya milikmu kawan? Ada sisi yang harus dipikirkan sebelum memilih untuk menjalani semua pilihan yang ada. Hidup bukannya berjalan sendiri , tapi beriringan yang sangat memungkinkan terjadinya persinggungan. Saling mendukung dan membuat hidup sewarna pelangi ataukah saling menjatuhkan membuat kelam. Ironis memang, jika pengharapan sinergis menjadi persinggunggan antagonis. Seharusnya mentari pagi akan tetap terasa lembut jika saling mengerti. Mengapa harus menyakiti dan tersakiti membentuk luka yang tak mampu terhapus oleh waktu.
Harapan pada hangatnya sinar fajar, memang telah terhempas ketika Si Tak Mampu Memilih memutuskan untuk menjalani semua pilihan yang ada. Egoisme tingkat tinggi saat yang menjadi pertimbangan hanya kepuasan hati untuk memiliki. Integritas akan ucapan yang telah terukir di sudut hati telah menguap. Sudut hati, yang telah meruang penuh seiring dengan perjalanan waktu. Tak mampu dikosongkan dengan apapun, meskipun ada pemenuh hati yang mungkin siap menggantikan Si tak Mampu memilih.
special buat “dia”
Mengakui kesalahan nampak lebih mudah dari pada menyadari sebuah kebodohan. Ketika terpaparkan sebuah fakta yang sedemikian otentiknya, kenapa rasionalitas masih enggan untuk memberikan pembenaran. Emosi hati mungkin memang terlibat, di balut dengan sebuah kepercayaan yang sedemikian sarat dengan makna. Terkait dengan komitmen, yang tingkatannya jauh melebihi status. Namun, entah hanya sebuah paradigma parsial atau memang menjadi aturan baku yang tidak tertulis, yang pasti ketidaksesuaian pemikiran bukan hanya sekedar berlandaskan kebutuhan temporal.
Perasaan bisa menembus batas pikiran-pikiran logic dari mereka yang nyaman di zona amannya. Enggan dengan pergerakan yang menimbulkan kekhawatiran goyahnya zona aman. Tragis memang, hanya demi zona aman bisa melegalkan batas-batas kewajaran yang sedemikian bersinggungan dengan kepentingan yang terabaikan. Hanya sekedar formalitas, ketika seolah aplikasi peduli terwujud dari tindakkan yang tak bermakna. Merasa benar dengan pilihan, tetapi tidak mengerti makna sebuah pemilihan. Kerumitan layaknya benang terurai yang semakin rumit karna penarikan simpul yang tak bijak.
Bukannya merasa paling benar, namun hanya sebuah ungkapan ketidakmengertian dari realita yang dianggap wajar . Batas antara wajar dan tidak wajar yang begitu bias hingga semuanya nampak serupa abu-abu. Mungkin mereka bisa menerima ke abu-abu an, karna tidak mampu memahami mana putih dan hitam, mana wajar dan tidak wajar. Namun, bagiku ini adalah sebuah fenomena yang melebihi batas kewajaran. Meskipun terlalu mewah untuk menjadi pemikiran yang berkelanjutan. Tak begitu sealur dengan seorang yang ambisius dan perfeksionis.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Archives
- December 2008 (1)
- September 2008 (1)
- June 2008 (2)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS